BEING AS SEA SOCIOLOGY (Sosiologi Masyarakat Kepulauan dan Kelautan )

Memahami Hakikat Sosial Masyarakat Kepulauan, Kelautan, dan Pesisir dalam Jaringan Kosmos Kelautan

Judul Buku: BEING AS SEA SOCIOLOGY (Sosiologi Masyarakat Kepulauan dan Kelautan )
Sub Judul: Memahami Hakikat Sosial Masyarakat Kepulauan, Kelautan, dan Pesisir dalam Jaringan Kosmos Kelautan
ISBN: Dalam Proses
Penulis: Aholiab Watloly & Zetriani Uktolseja
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: 552 hlm.
Ukuran Buku: Unesco
Harga: Rp 0
Genre: non-fiksi

Sinopsis

Buku "BEING AS SEA SOCIOLOGY (Sosiologi Masyarakat Kepulauan dan Kelautan);Memahami Hakikat Sosial Masyarakat Kepulauan, Kelautan, dan Pesisir dalam Jaringan Kosmos Kelautan" hadir sebagai hasil refleksi dan pergumulan intelektual yang panjang dalam memahami kehidupan masyarakat kepulauan dan masyarakat kelautan sebagai dua entitas sosial yang memiliki karakteristik, struktur, serta pola eksistensi yang khas. Keunikan tersebut dapat dikenali baik secara filosofis maupun ilmiah. Dalam perspektif ini, masyarakat kepulauan membangun kehidupan sosialnya dengan menjadikan laut sebagai dasar pembentukan nilai, perilaku, dan relasi sosial. Karakter laut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari interaksi sosial, pembentukan jaringan sosial, sistem kekerabatan, integrasi masyarakat, perubahan sosial, pertukaran sosial, pengelolaan ruang agraria, hingga praktik pembangunan, resiliensi, dan perdamaian.
Berangkat dari kerangka pemikiran tersebut, buku ini menawarkan pendekatan Being as Sea sebagai perspektif teoritis alternatif untuk memahami hakikat dan dinamika sosial masyarakat kepulauan dan kelautan. Pendekatan ini menghadirkan seperangkat parameter keilmuan yang berbeda dari perspektif sosiologi pada umumnya. Dalam teori Being as Sea, kehidupan sosial dipandang sebagai refleksi dari sifat-sifat laut yang cair, dinamis, relasional, serta penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, struktur sosial tidak dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan statis, melainkan sebagai proses yang senantiasa bergerak, beradaptasi, dan bertransformasi sebagaimana gelombang laut yang terus berubah. Laut dipahami bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang sosial, budaya, dan eksistensial yang menghubungkan berbagai unsur kehidupan masyarakat serta membentuk cara pandang dan pola hidup mereka.
Berbeda dengan pendekatan sosiologi maritim modern yang cenderung menempatkan laut sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dieksploitasi dan dikuasai, perspektif Being as Sea memandang laut sebagai pusat konstruksi kehidupan sosial itu sendiri. Dalam kerangka ini, struktur sosial, sistem nilai, serta praktik kehidupan sehari-hari lahir dari hubungan yang mendalam antara manusia dan ekologi kelautan yang dipahami sebagai entitas kosmologis. Laut menjadi ruang kosmos yang tidak hanya berfungsi sebagai medium relasi sosial, tetapi juga sebagai sumber makna, identitas, dan pengalaman hidup. Melalui hubungan tersebut, laut berperan penting dalam membentuk karakter, kesadaran, dan identitas masyarakat kepulauan sebagai komunitas yang tumbuh dan berkembang bersama lingkungan maritimnya.