| Judul Buku | : Babad Tiga Gereja Pribumi |
| Sub Judul | : |
| ISBN | : Dalam Proses |
| Penulis | : Padmono SK |
| Tahun Terbit | : 2026 |
| Jumlah Halaman | : 450 hlm. |
| Ukuran Buku | : A5 |
| Harga | : Rp 0 |
| Genre | : non-fiksi |
BABAD TIGA GEREJA PRIBUMI adalah sebuah novel sejarah tentang pekabaran Injil di Jawa yang kemudian melahirkan gereja-gereja pribumi yaitu Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Gereja Injili Tanah Jawi (GITJ), dan Gereja Kristen Jawa (GKJJ. Dimulai dari penginjilan yang dilakukan oleh Laurence Conrad Coolen di Ngoro, daerah Mojokerto, komunitas Kristen itu berkembang. Anak didik Coolen membangun komunitas Kristen yang menjadi GKJW Mojowarno. Di sana pendeta pribumi pertama diteguhkan pada diri Kyai Paulus Tosari,
Di Ngoro, seorang pencari ngelmu belajar tentang kekristenan yang khas Jawa. Dia adalah Kyai Tunggul Wulung. Dia tertarik pada kekristenan yang tidak perlu menjadi Belanda itu dan mengabarkan Injil di sekitar gunung Muria. Dia menjadi kyai Kristen di desa Bondo, Jepara. Dari sana Injil diwartakan. Di sana pula ia harus berhadapan dengan penginjil Eropa.
Seorang santri dari daerah Pati bernama Radin adalah pencari ngelmu. Namun ia merasa kecewa ketika gurunya memeluk agama Kristen. Lału ia dibawa kepada Kyai Tunggul Wulung di Bondo. Dari sana ia berkenalan dengan kekristenan. Oleh Kyai Tunggul Wulung ia dibawa ke Jakarta dan dibaptis di gereja Sion, Setelah membantu pekabaran Injil di Bagalen, Purworejo, ia lalu menetapkan diri sebagai kyai Kristen dengan nama Kyai Sadrah Suropranoto dengan basis pekabaran Injil di Karangjoso.
Semua itu terjadi di abad 19. Lembaga pekabaran Injil dari Eropa gencar mengirim pendeta untuk mengabarkan Injil tetapi di pulau Jawa, mereka tidak banyak berhasil. Penginjil pribumi itu yang menyebar Injil dan gereja pribumi tumbuh. Inilah kisahnya! Selamat membaca!